Seminar International Pertama Sekolah Tinggi Ilmu Qur’an (STIQ) AR Rahman Bogor AQL Islamic Center

 

Jakarta,21 Maret 2018-Seminar STIQ ini di hadiri oleh pembicara

K.H.Bachtiar Nasir Lc.MM

(Pembina AQL Islami Center & STIQ Ar Rahman Bogor)

Syeikh Prof.DR.Wasfi Asyur Abu Zaid Al Mishi (Mesir)

Syeikh DR.Tajuddin AlBassi (Sudan)

Dan Keynote Speker dalam seminar

ini adalah Prof.DR.Rosihon Anwar,M.Ag.

 

Sejarah mencatat bahwa peradaban islam muncul ketika diutusnya Rasulullah Shollaulaahu wa sollam di tengah masyarakat Arab. Negara yang dipenuhi kejahaliyyahan  berubah menjadi negara yang beriman, aman, damai dan sejahtera. Masyarakat yang hubungan |angitnya hanya pada Rububiyyah saja, menjadi utuh dalam kalimat yang sempurna. Kalimat yang telah diwariskan Kakek Ibrahim ‘alaihisssalam, telah tertanam Iagi bahkan menyebar menebar ke seluruh penduduk dunia. Setelah selesai urusan langit maka hal yang ditangani adalah urusan dengan bumi dan para penduduknya. Dengan memperhatikan, menata dan mengawasi dalam petunjuk ilahi lahirlah peradaban gemilang di jazirah Arab dan tercatat dengan tinta emas. Peradaban gemilang tersebut kemudian selalu simple dan rujukan bagi penerus peradaban selanjutnya, itulah yang dilakukan Umar bin Khothob saat membebaskan Persia, Sholahuddin saat membebaskan Palestina dan Muhammad al Fatih saat membebaskan Konstantinopel.

 

Dengan pondasi-pondasi yang kokoh (WU GUI”) dan diteruskan secara estapet manusia-manusia terbaik setelah Rosul (one of a kind) dalam membangun peradaban di muka bumi, Islam tersebar sampai ke Turki dan Spanyol, Prancis dan China, mengaung menjadi Singa yang ditakuti, menjadi Pohon yang melindungi dan menjadi air yang menyejukkan bahkan menjadi pilar perdamaian dunia.

 

Akan tetapi keberhasilan dan kejayaan yang dicapai oleh pendahulu umat Islam tidak bisa dijaga dan dilestarikan oleh generasi berikutnya, dimana saat umat juah dari petunjuk langit, maka saat itu mereka tak punya cahaya dan akhirnya mereka harus menyelesaikan sisa-sisa perjaianan dengan kemampuan mereka sendiri tanpa cahaya langit. Mereka lupa akan perkataan seorang pemimpin yang bergeiar al Faruq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *